Rabu, 19 Maret 2014

Mahkamah Internasional: Australia, Setop Mata-matai Timor Leste!

Den Haag Perintah tegas dikeluarkan Mahkamah Internasional (International Court of Justice) pada Australia. Negeri Kanguru wajib menghentikan kegiatan mata-matanya atas Timor Leste terkait sengketa cadangan minyak dan gas bumi senilai US$ 40 miliar atau Rp 463,8 triliun.

Ini adalah kali pertama pengadilan internasional memerintahkan negara Barat untuk berhenti memata-matai bangsa lain.
Mayoritas anggota majelis hakim memutuskan bahwa dokumen yang disita oleh agen Australia pada bulan Desember harus tetap 'tersegel',  tidak dapat digunakan selama sengketa masih berlangsung atas sumber daya yang melimpah di Laut Timor.

Sebaliknya, mahkamah tak memenuhi permintaan Timor Leste agar dokumen tersebut dikembalikan.

Sengketa tersebut menandai memburuknya persahabatan 2 negara yang tadinya sangat erat. Apalagi Australia ada di garis depan membantu Timor Leste melepaskan diri dari Indonesia pada 2002.

Ahli hukum Donald Rothwell dari  Australian National University mengatakan, kasus mata-mata tersebut 'belum pernah terjadi sebelumnya'. Ini adalah kali pertamanya Australia menerima perintah terkait dokumen yang diperoleh dari kegiatan intelijen.

Selasa, 03 September 2013

10 Negara Termiskin di Dunia

Kebanyakan negara miskin terjadi pada negara yang berkembang. Negara miskin juga sering terjadi pada negara agraris. Kemiskinan sebuah negara dapat disebabkan karena beberapa faktor. Faktor sumber daya alam (SDA)yang sedikit bahkan tidak ada biasanya menjadi persoalan utama kemiskinan jika negara tersebut tidak memiliki sumber daya manusia (SDM)yang bisa diandalkan. Sebaliknya, negara yang tidak memiliki SDA akan tetapi memiliki SDM yang bagus maka negara tersebut akan menjadi negara yang kaya. Selain faktor SDA, faktor kemiskinan yang lain bisa saja karena faktor intern negara. Faktor intern negara antara lain faktor politik dan etnik. Politik bisa perperan dalam bidang apa saja. Politik dapat dijadikan ‘kuda tunggangan’ untuk mendapatkan kekuasaan yang dapat menentukan maju atau mundurnya suatu negara. Sementara faktor yang lain adalah etnik yang berbeda namun tidak bisa bersatu juga dapat menyebabkan kemiskinan. Ini bisa dipahami karena dengan multi etnik yang tidak bisa akur menyebabkan adanya perang saudara yang berkepanjangan yang menyebabkan pengangguran dan kemiskinan.

Impor kambing dari Timor Leste tak dibahas spesifik

Kemarin, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan jajaran kabinet Indonesia Bersatu jilid II menerima kunjungan tamu kenegaraan yakni Presiden Timor Leste Taur Matan Ruak. Setelah lebih dari 11 tahun sejak melepaskan diri dari Indonesia, hubungan Timor Leste dengan Indonesia makin mesra.
Terlebih, sejak 2008 hingga 2012, investasi dan perdagangan kedua negara terus mengalami peningkatan yang cukup signifikan. kedua kepala negara sepakat untuk meningkatkan hubungan perekonomian, yakni perdagangan, investasi perikanan, kehutanan, dan perhubungan.
Namun, tidak dibahas spesifik mengenai rencana yang sempat dilontarkan Menteri Muda Peternakan Timor Leste Valentino Varela yang berencana mendatangkan kambing dari Timor Leste ke Indonesia.
"Kita tidak bahas itu (ekspor kambing dari Timor Leste) secara spesifik, tapi ada kesepakatan yang ditanda tangani," ujar Menko Perekonomian Hatta Rajasa usai memantau pembagian Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) di kantor Pos Mampang, Jakarta, Sabtu (22/6).

97 Persen demarkasi perbatasan Indonesia-Timor Leste selesai



97 Persen demarkasi perbatasan Indonesia-Timor Leste selesai

Reporter : Yulistyo Pratomo
Jumat, 21 Juni 2013 22:16:00 Kunjungan Presiden Timor Leste . ©2013 Rumgapres/Abror Rizki
1


Indonesia dan Timor Leste telah menyepakati garis batas kedua negara. Kesepakatan itu ditandatangani menteri luar negeri kedua negara di hadapan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Taur Matan Ruak di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (21/6).

Dengan kesepakatan tersebut, maka persoalan garis batas kedua negara telah mencapai 97 persen. Masih ada dua segmen lagi yang harus dituntaskan.

"Melalui perjanjian yang terdahulu, sudah mengakui 97 persen perbatasan darat Indonesia-Timor Leste. Sudah didemarkasi ada tiga titik yang disebut undissolved segments yang selama ini telah dirundingkan, dan hari ini satu dari tiga titik tersebut sudah disepakati," kata Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa di Istana Merdeka.

Marty menjelaskan, sebelumnya garis batas kedua negara telah ditetapkan dalam perjanjian antara pemerintah Hindia Belanda dan Portugal yang menguasai negara itu. Melihat kondisi itu, Kementerian Luar Negeri berupaya untuk menyelesaikan garis perbatasan yang masih tersisa.

Indonesia incar investasi hingga Rp 2,9 triliun dari Timor Leste

Lebih dari 11 tahun sejak melepaskan diri, kini hubungan Timor Leste dengan Indonesia makin mesra. Sejak 2008 hingga 2012, investasi dan perdagangan kedua negara terus mengalami peningkatan yang cukup signifikan.
"Hubungan berkembang baik 2008-2012 tumbuh delapan persen dan (investasi) mencapai USD 260 juta tahun lalu. Kami berharap, tahun 2016 bisa kami tingkatkan menjadi USD 300 juta. Investasi juga terus berkembang," ungkap Presiden SBY dalam jumpa pers bersama di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (21/6).
Melihat kemajuan cukup pesat itu, kedua kepala negara sepakat untuk meningkatkan hubungan perekonomian, yakni perdagangan, investasi perikanan, kehutanan, dan perhubungan. Salah satu program yang sangat penting adalah membangun konektivitas transportasi udara untuk mendukung kerja sama ekonomi.

Presiden Timor Leste mengaku kagum dengan SBY

Presiden Timor Leste Taur Matan Ruak mengaku kagum dengan sosok Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Dia menilai SBY telah berupaya membangun persahabatan antara Indonesia dan Timor Leste, serta mendukung negaranya menjadi bagian dari dunia internasional.

Atas alasan itu, Taur Matan Ruak ingin mengundang SBY mengunjungi negaranya untuk kesekian kali. Sebelumnya, SBY sudah pernah mengunjungi negara tersebut saat Taur tengah menjalani pelantikannya menjadi presiden kedua Timor Leste.

"Hari ini, saya menggunakan kesempatan ini mengundang Presiden SBY agar mengunjungi Timor Leste sekali lagi sebelum presiden sudah tak lagi menjadi presiden. Ini kekaguman kita kepada kepemimpinan SBY yang telah berupaya keras untuk mendukung Timor Leste untuk terintegrasi dunia kita, dan membantu Timor Leste untuk membangun dan mengembangkan ekonominya dan menjadi suatu negara yang menjaga keberlangsungannya suatu negara dan negara pisah yang memiliki potensi bagi negaranya," jelas Taur dalam bahasa Portugis di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (21/6).

Sabtu, 23 Februari 2013

Timor Leste Tujuan Baru Diving


DILI-Timor Leste merupakan negara Asia Tenggara terbaru tujuan untuk menyelam. Sementara wilayah perbatasan dengan Timor Barat (Indonesia) mungkin sulit, Dili dan daerah Timur umumnya lebih aman.
Sebelumnya Portugis, Timor Leste merdeka pada tahun 1975 hanya sembilan hari. Tentara Indonesia kemudian pindah masuk Tidak sampai tahun 2002 Timor Leste diakui secara internasional sebagai negara merdeka.
Ada di utara Australia dan selatan Indonesia, Timor Leste meliputi bagian timur pulau Timor, Oecussi (Ambeno) wilayah di bagian barat laut pulau Timor dan pulau-pulau Atauro dan Jaco. Ibukotanya adalah Dili, juga punya bandara internasional.
Ada fasilitas medis terbatas di Timor Leste. Periksa bahwa Anda ditanggung dalam asuransi untuk evakuasi medis (untuk ke Australia atau Singapura). Jika Anda membutuhkan bantuan medis darurat selama perjalanan Anda, hubungi 110 dan meminta ambulans.
Ambil dolar AS yang merupakan mata uang lokal, dalam bentuk tunai atau cek perjalanan. Sistem perbankan yang terbatas di Timor Leste tidak akan bertukar Poundsterling atau Euro. Beberapa tempat menerima kartu kredit.http://timoroman.com/timor-leste-tujuan-baru-diving/

Ramos Horta Bela Warga Rohingya


DILI - Mantan Presiden Timor Leste Jose Ramos-Horta dan seorang bankir ternama dari Bangladesh, Muhammed Yunus, mengutarakan pembelaannya terhadap etnis Rohingya di Myanmar. Kedua Peraih Nobel Perdamaian itu menepis klaim yang menyebutkan, Rohingya adalah imigran gelap.
“Ada buktinya bahwa Rohingya sudah ada di Myanmar sejak Abad ke-8. Tidak dapat dibantah, komunitas Muslim itu sudah ada di Arakan sejak dulu. Mereka adalah keturunan etnis Benggala yang bermigrasi ke Arakan di era penjajahan,” ujar kedua tokoh itu, dalam tulisannya di Huffington Post, Jumat (22/2/2013).
“Warga minoritas Rohingya terus menderita akibat penyiksaan itu, lebih dari 1.000 warga Rohingya dibunuh dan ratusan lainnya diusir dari rumahnya dalam beberapa bulan,” tambahnya

Pertamina: Timor Leste Pasar BBM Potensial


DENPASAR— Pertumbuhan penjualan bahan bakar minyak di Timor Leste yang mencapai 20 persen pada tahun 2011 menjadikan negeri yang pernah tergabung dalam NKRI ini sebagai pasar potensial bagi Pertamina.
Untuk kebutuhan pemerintah, swasta, dan masyarakat Timor Leste, rata-rata setiap bulan Pertamina memasok 4 juta liter atau 4.000 kiloliter bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Premium, solar, avtur, dan pelumas.
“Semua produk BBM yang dijual Pertamina tidak ada yang bersubdidi,” kata Afandi, General Manager Fuel Retail Marketing Regional V Pertamina Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara, di Denpasar, Bali.
Karena nonsubsidi, harga premium di Timor Leste dapat mencapai Rp 10.000 per liter.
Untuk meningkatkan pelayanan sekaligus meminimalkan penyelundupan BBM bersubsidi dari Indonesia ke Timor Leste, dalam waktu dekat Pertamina akan menyiapkan stasiun pengisian BBM di daerah perbatasan antara Indonesia dan Timor Leste.http://timoroman.com/pertamina-timor-leste-pasar-bbm-potensial/

Lembaga Keuangan Mikro Berjaya di Timor Leste


DILI-Keuangan mikro di Timor Leste telah lepas landas, dan itu membantu untuk menumbuhkan ekonomi  di utara Wilayah Australia itu.
Sebuah program yang dimulai dengan hanya $ US12000 (Rp 120 juta), telah tumbuh menjadi $ US2.8 juta (Rp 280 juta).
Orang Darwin asal Timor Leste Jose Gusmao, yang menjalankan program mengatakan, dia bekerja dengan Save The Children mengadakan acara amal di negara baru itu ketika mereka pertama kali membahas ide.
“Kami melihat bagaimana untuk mendapatkan kemandirian dan kemerdekaan,” katanya.
“Alat yang kita gunakan adalah keuangan mikro.”
Organisasi ini memberikan  $ US12, 000 sebagai dana awal.
“Saya adalah manajer program,” katanya, “Kami mulai dengan $ US12, 000 dan memiliki 145 klien di empat distrik, terutama perempuan.”
Program ini dimulai dengan tim terdiri dari tiga orang: Gusmao dan dua orang lain. Sekarang dijalankan oleh organisasi Timor Tuba pimpinan Rai Matin dan mempekerjakan sekitar 125 orang.
Anggota meminjam antara $ US50 (rp 500 ribu) hingga  $ US10, 000 (Rp 10 juta) untuk mendirikan toko-toko kecil, atau untuk membeli bibit dan alat-alat pertanian untuk bertani dan menjual sayuran.
“Jumlah pinjaman anggota rata-rata adalah $ US274 dan memiliki 7.519 peminjam. Pinjaman berjalan dari satu sampai tiga tahun, Pada tahun 2010 dan tingkat bunga bervariasi hingga 2 persen per bulan- cukup tinggi menurut standar Australia.
Gusmao mengatakan ada biaya operasi yang tinggi dengan administrasi keuangan mikro. Peminjam memasang bisnis mereka, aset dan tabungan sebagai jaminan, dengantingkat pengembalian sekitar 98 persen.

Minggu, 18 November 2012

Pertamina-Timor GAP Duet di Bumi Lorosae

Jakarta - PT Pertamina (Persero) dan Timor Gas E Petroleo, National Oil Company di Democratic Repbulic of Timur Leste, telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk pengembangan bisnis bersama di sektor minyak dan gas bumi (migas) di Bumi Lorosae, Timor Leste.

Penandatangan nota kesepahaman tersebut ditandatangani oleh Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan dan President dan CEO Timor Gas E Petroleo Francisco dan Costa Monteiro di Jakarta, Jumat (15/6/2012).

Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan mengatakan, lingkup rencana kerja sama antara kedua belah pihak akan mencakup keseluruhan sektor bisnis minyak dan gas bumi, baik hulu, gas, pengolahan, pemasaran maupun untuk pengembangan SDM. Rencana kerja sama untuk sektor hulu dan pengolahan akan bersifat jangka panjang.

Adapun, tutur Karen, untuk sektor pemasaran persiapan rencana kerja sama akan dituntaskan dalam waktu dekat. Beberapa hal yang segera ditindaklanjuti dalam kerja sama tersebut meliputi pembangunan SPBU, pasokan BBM untuk Timor Leste, dan peluang kerja sama di sektor hilir lainnya.

Ia menjelaskan, setelah penandatanganan MoU, rencananya akan dilaksanakan studi bersama antara Pertamina dengan Timor GAP dalam bentuk working group terkait rencana kerja sama bisnis yang akan dilakukan. Pertamina dan Timor GAP akan segera membentuk suatu badan kerja sama bisnis yang akan menjadi model contoh overseas business Pertamina.

"Pertamina saat ini merupakan market leader di Timor Leste, terutama untuk bisnis hilir seperti BBM retail dan industri, avtur, LPG, dan pelumas. Untuk itu, kami sangat berkeinginan untuk mempererat kerja sama antara Pertamina dan Timor GAP, yang dengan itu akan semakin memperkokoh keberadaan Pertamina di Timor Leste," kata Karen.

Penandatanganan kerja sama yang dilakukan perseroan menggandeng Timor GAP dalam bisnis minyak dan gas bumi di Timor Leste, merupakan bentuk kepatuhan perusahaan terhadap regulasi setempat, di mana negara tersebut telah menerapkan UU Downstream Democratic Republic of Timor Leste (RDTL) Decree Law No 1/2012 pada 1 Februari 2012.

Melalui UU tersebut, pada article 9 diatur bahwa pelaku bisnis yang melaksanakan kegiatan usaha migas harus merupakan perusahaan yang didirikan berdasarkan hukum RDTL. Selain itu, regulasi tersebut menetapkan kewajiban adanya participating interest oleh perusahaan lokal minimal 5%.

"Bisnis Pertamina di Timor Leste akan dijadikan sebagai sebuah model contoh overseas business Pertamina," ungkapnya.
http://www.centroone.com/news/2012/06/2ss/pertamina-timor-gap-duet-di-bumi-lorosae/printpage

Timor leste

Airports in Timor-Leste

 

Kamis, 01 November 2012

Kembali ke Index Topik Pilihan Kemenangan Matan Ruak Bukti Kecerdasan Xanana

emerhati masalah Timor Leste dari "East Timorese Indonesia Citizen Association" (ETICA) Florencio Mario Vieira mengatakan kemenangan Taur Matan Ruak dalam putaran kedua pemilihan presiden Timor Leste, Senin (16/4/2012), merupakan bukti kecerdasan Xanana Gusmao dalam membangun komunikasi politik.
"Dari sekitar empat ratus ribu suara yang telah dihitung hingga Selasa dini hari, mantan Panglima Angkatan Perang Timor Leste (FDTL) itu menang telak di 11 distrik, kecuali Viqueque dan Baucau, sedang saingannya Fransisco Guterres atau Lu-Olo menang tipis. Ini bukti kecerdasan Xanana dalam membangun komunikasi politik di Timor Leste," kata Mario kepada Antara dari Dili, Selasa (17/4/2012).
Dari total suara yang dihitung, pria  yang dilahirkan dengan nama Jose Maria de Casconselhos di Baguia, Distrik Baucau pada 10 Oktober 1956 itu meraih 235.299 suara atau sekitar 58,82 persen dari total 400.000 suara yang dihitung.
Sementara rival politik Taur yang sama-sama dari Partai Fretilin (Frente Revolucionaria de Timor Leste Independente), Lu-Olo yang juga Ketua Partai Fretilin dan mantan Ketua Parlemen Timor Leste 2002-2007 baru mengumpulkan 155.518 suara atau sekitar 38,87 persen dari total surat suara yang telah dihitung.

Warga Eks Timor Leste Dukung Kemenangan Taur Matan Ruak

Kemenangan salah satu kandidat calon presiden Timor Leste, Taur Matan Ruak pada pemilihan putaran kedua, Senin (16/4/2012) kemarin, bukan hanya disambut gembira oleh pendukung dan warga Timor Leste saja, tetapi juga mendapat sambutan hangat dari Eks warga Timor Leste yang memilih menjadi warga negara Indonesia pada tahun 1999 silam.
"Profisiat buat saudaraku Taun Matan Ruak, atas kemenangan pada pemilihan presiden Timor Leste tahun 2012 ini. Karena itu harapan saya sebagai warga eks Timor Leste yang kini memilih Indonesia sebagai negara saya, agar Taur Matan Ruak membuat semacam rekonsiliasi kembali tanpa syarat bagi orang Timor Leste, baik orang Timor Leste kelahiran Timor Leste yang sekarang menetap di Timor Leste, maupun orang Indonesia kelahiran Timor Leste, supaya kalau bisa ke depan bisa membangun Timor Leste dengan baik. Jangan lagi ada konflik kepentingan antara, Ramos Horta, Xanana Gusmao, Fransisko Lu Olo Guteres dan Taur Matan Ruak sendiri," jelas Miguel Atibau, salah satu tokoh masyarakat asal Timor Leste di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur, Selasa (17/4/2012).
Menurut Atibau, kemenangan Taun Matan Ruak tersebut adalah juga karena dukungan yang besar dari Partai Congresu Nacional Reconstrusaun Timorense (CNRT) dengan pimpinannya Xanana Gusmao, yang merupakan bapak bangsa dan menjadi tokoh yang sangat dihormati di negeri matahari terbit itu. "Selain dukungan dari Xanana, Matan Ruak juga adalah salah satu tokoh penting di Timor Leste karena jabatan terakhirnya adalah panglima tentara nasional demokratik Timor Leste," kata Atibau.
"Fransisko Lu Olo Guteres dan Mari

PERKEMBANGAN TIMOR-LESTE

RIEN Kuntari, wartawan Kompas, adalah salah seorang Indonesia yang mempunyai akses sangat luas di Timor Leste. Ia adalah satu-satunya wartawan Indonesia yang bisa tidur di kemah Taur Matanruak, kini Panglima FDTL/ETDF (Angkatan Beladiri Timor Leste), ketika mewawancarainya di saat-saat terakhir yang amat kritis menjelang Referendum 1999.
Untuk mewawancara Taur Matanruak, Rien harus berjalan kaki puluhan kilometer di hutan, yang menjadi pangkalan gerilya Fretilin di pegunungan yang menghadap ke Lautan Pasifik Selatan. Demikian dekat Rien dengan sejumlah petinggi di Timor Leste sekarang ini, sehingga menurut seorang kepercayaan Xanana, Presiden Timor Leste itu menyebut Rien dengan ”orang kita.”
Maka, hari Minggu 28 April lalu saya setengah terkejut ketika membaca laporan Rien yang begitu trenyuh, bernada kepedihan, ketika Rien berkisah tentang Timor Leste yang baru saja dikunjunginya untuk meliput pemilihan presiden. Tetapi Rien benar bahwa ia tidak sendirian. Boleh dibilang semua orang Indonesia yang mengunjungi Timor Leste kini, pernah terserang sindrom seperti itu. Perpisahan, kapan pun, di mana pun, dan karena sebab apa pun, selalu pedih. Apalagi kalau perpisahan itu sempat diwarnai hati yang terluka di antara kedua pihak.
Namun sebetulnya, Rien juga pasti mengetahui, perpisahan itu adalah jalan terbaik bukan hanya untuk Timor Leste, tetapi juga bagi Indonesia. Tanpa persoalan Timor Leste, kini diplomasi luar negeri Indonesia menjadi sangat leluasa dan tanpa beban dalam merebut kembali citra Indonesia sebagai salah satu pemimpin besar, baik di kawasan ini maupun secara global. Rencana kunjungan Presiden Megawati ke Dili dalam rangka perayaan kemerdekaan Timor Leste 20 Mei besuk—rencana yang menjadi salah satu topik paling hangat di Dili—akan menjadi tonggak yang luar biasa dalam membangun citra baru tersebut.
Apalagi jika kelak Indonesia bisa dengan elegan keluar dari stigma Timor Leste yang selama ini cukup menghambat pemulihan hubungan yang pernah sangat indah dengan Australia. Megawati mempunyai peluang sangat bersejarah dalam upaya pemulihan ini, sehingga dua bangsa besar, Indonesia dan Australia, dapat kembali bersama-sama menjadi pilar penyangga perdamaian di Pasifik Selatan, salah satu kawasan terdamai di dunia saat ini.
”Winning game”
Peluang kita untuk mengubah Timor Leste dari losing game menjadi winning game, juga secara nyata bisa diperoleh di dunia bisnis. Ambil contoh apa yang terjadi hampir dua tahun terakhir ini. Sebelum Referendum 1999, setiap tahun APBN harus mengalokasikan ekivalen sekitar Rp 1 trilyun untuk pembangunan Timor Leste. Belum lagi dana nonbudgeter yang dikendalikan langsung militer, serta nyawa-nyawa yang boleh dibilang setiap pekan berguguran di sana.
Lalu, apa yang terjadi kini? Ambil contoh penerbangan Merpati. Sejak akhir tahun 1999, Merpati yang kini menerbangi Denpasar-Dili tujuh kali seminggu sebagai salah satu jalur tergemuk, sedikitnya telah mengantungi sekitar 50 juta dollar AS (Rp 470 milyar) dari jasa angkutan orang dan barang. Belum lagi pariwisata di Bali yang menikmati tamu dari Dili setiap akhir pekan.
Pertamina juga pesta dollar. Dulu, Pertamina harus menjual premium dan lain-lain di Dili dengan harga subsidi seperti di Jakarta. Kini Pertamina menjualnya di Dili dengan harga 2-3 kali lipat. Jika konsumsi rata-rata BBM di Timor Leste adalah 20.000 - 30.000 ton per bulan, kita tinggal hitung saja berapa keuntungan Pertamina sejak akhir tahun 1999 hingga sekarang.
Telkom dulu harus mensubsidi operasinya. Kini, Telkom ongkang-ongkang kaki tinggal menerima hasil sewa operasi peralatannya oleh Telstra, telkomnya Australia yang kini berkiprah di Timor Leste. Industri dan perdagangan di Surabaya pun menikmati rezeki lumayan, karena walaupun sudah mulai mendapat saingan dari Thailand dan Cina, praktis hampir semua kebutuhan sembako, elektronik, bangunan, bahan baku industri, kertas, dan alat tulis masih didatangkan dari Surabaya.
Kalau saja tidak ada penempatan kekuatan militer yang begitu mencolok di perbatasan Timor Leste dan Timor Barat, arus barang dari Surabaya ke Dili itu pasti akan jauh lebih cepat dan jauh lebih besar. Selama perbatasan ditutup, arus barang dari Surabaya harus menempuh perjalanan laut dua-tiga minggu untuk sampai ke Dili, padahal jika melalui jalan darat dan feri hanya empat-lima hari.
Arus barang ini juga bisa memberikan trickle down effect yang besar bagi masyarakat sepanjang rute darat Surabaya-Dili itu ketika melewati NTT. Kehadiran militer dengan skala besar di perbatasan Timor Leste dan Timor Barat juga menghilangkan kesempatan tumbuhnya ekonomi rakyat setempat. Harga komoditas pertanian di Timor Barat (orang Timor Leste menyebutnya dengan Timor Loromanu), rata-rata hanya sekitar 30-50 persen dari Timor Leste yang berekonomi dollar (kecuali beras yang belakangan ini dibanjiri Vietnam). Andaikata terjadi transaksi bebas di perbatasan, betapa untungnya masyarakat Timor Barat.
Begitu besar potensi perdagangan di perbatasan ini sehingga ekonom Faisal Basri ketika bertemu dengan mitranya, sejumlah ekonom muda Timor Leste, Joao Saldanha dan kawan-kawan dari East Timor Study Group di Dili tahun lalu, pernah secara panjang lebar dan antusias mendiskusikan kemungkinan membentuk semacam free economic zone di perbatasan Timor Leste dan Timor Barat. Gagasan ini kemudian ditangkap oleh Pemda NTT meskipun hingga kini tetap tinggal sebatas wacana.
Timor Leste juga membutuhkan ribuan guru, perawat, dan dokter bahkan teknisi dengan gaji sedikitnya Rp 3-5 juta per bulan di luar dokter.  Timor Leste dengan penduduk satu juta orang memang bukan pasar berskala besar. Tetapi sebagai negara baru, Timor Leste mendapat kemudahan ekspor dengan bebas bea masuk ke Amerika Serikat untuk 49 jenis hasil industri dan komoditas pertanian jika berlabel made in Timor Leste. Belum lagi akses pasar sejenis ke Uni Eropa, baik secara langsung, maupun secara tidak langsung melalui Portugal.
Sehubungan dengan peluang ini, Penasihat Kadin Timor Leste (ASSET) Manuel Carascalao yang beristrikan wanita Makassar, serta Ketua ASSET Oscar Lima berulang kali mengundang pengusaha Indonesia untuk berinvestasi di Timor Leste dengan investasi minimal 50.000 100.000 dollar AS dan kemungkinan kemudahan jalur pintas untuk mendapatkan status permanent resident (penduduk tetap). Oscar bahkan membuka pula kemungkinan industri komponen low end-nya di Kupang, sedangkan high end termasuk pengepakannya untuk ekspor dibuat di Timor Leste.

Ekonomi jasa
Timor Leste sekarang ini memang tidak lebih dari sebuah negara baru dengan persoalan kemiskinan dan berbagai persoalan lainnya yang kompleks sebagaimana yang dikisahkan Rien Kuntari. SDM-nya pun masih sangat terbatas untuk menjadi sebuah kekuatan perubahan meloncat bagi Timor Leste. Bagi cukup banyak orang Timor Leste sendiri, potret kemiskinan dan keterbelakangan ini bahkan sempat menjadi keputusasaan dan kepasrahan.
Sebagai saudara tua yang pernah seperempat abad mengangkangi Timor Leste, sebetulnya kita tidak bisa mencuci tangan dengan realitas yang dikisahkan Rien Kuntari tersebut. Kemiskinan dan buruknya mutu SDM itu adalah sisa-sisa ”peradaban buruk” yang kita bawa ke sana, termasuk soal KKN, premanisme, kekerasan, dan ketidakpatuhan pada hukum.
Namun, Timor Leste yang kini miskin, terkebelakang, dan penuh persoalan, boleh jadi adalah Timor Leste yang jauh lebih beruntung dibandingkan Indonesia tahun 1945, bahkan bisa juga dari Indonesia yang kini terperangkap dalam ketidakmenentuan arah reformasi, termasuk reformasi hukum dan politik.
Panglima FDTL Brigjen Taur Matanruak telah berulangkali secara tegas menyatakan bahwa doktrin militer Timor Leste akan selalu dan tetap tunduk pada legitimasi pemerintahan sipil. Ini membuat persoalan sangat pelik yang dihadapi Indonesia dengan ambivalensinya soal TNI serta segala dampak negatifnya pada hambatan reformasi hukum dan politik nasional, tidak akan dialami oleh Timor Leste.
FDTL juga sejak awal menegaskan tidak akan menggunakan sistem teritorial dan akan tetap mempertahankan jumlah kecil walaupun kelak ekonomi minyak akan membanjiri Timor Leste dengan dollar. Ini karena FDTL percaya bahwa polisi lebih dibutuhkan rakyat bahwa diplomasi adalah survival policy yang terbaik bagi Timor Leste, dan bahwa kemakmuran serta keadilan otomatis akan membuat rakyat loyal pada negaranya.
Dalam bidang ekonomi pun, disiplin fiskal yang selama dua tahun ini dengan ketat diberlakukan di Timor Leste—antara lain melalui tidak adanya subsidi beras dan BBM, serta bea masuk yang ketat di sebuah ekonomi yang penyelundupannya sangat minim—memang sempat menimbulkan beban ekonomi yang besar bagi rakyat, terutama dari sudut efek inflatoir-nya.
Disiplin fiskal ini tidak saja akan membuat fundamental ekonomi Timor Leste kokoh sejak dini, tetapi juga secara nyata telah memberikan penerimaan yang secara relatif cukup kuat bagi pemerintah untuk mulai membangun.  Model ini juga akan sangat meminimalkan manipulasi populis oleh para politisi partai besar di Timor Leste merdeka nanti, karena sejak sangat dini kultur kesadaran pajak akan mengontrol perilaku pejabat pemerintah/birokrasi. Apalagi dengan diberlakukannya mata uang dollar AS sebagai mata uang resmi Timor Leste, maka dollarisasi moneter dan ekonominya akan menuntut Timor Leste bisa survive dengan efisiensi ekonomi yang terus semakin baik, termasuk disiplin fiskalnya.
Dalam konteks itulah, dimotori oleh sejumlah ekonom muda lulusan AS-Australia-Selandia Baru dan Indonesia, Joao Saldanha dan kawan-kawan dari East Timor Study Group di Dili yang umumnya apolitik, kini sedang terjadi perdebatan besar di Timor Leste mengenai model ekonominya ke depan, terutama dengan bakal datangnya ekonomi migas tahun 2005.
Sejak dini, East Timor Study Group sudah mewanti-wanti tentang ancaman Dutch Disease—paradoks melemahnya pertumbuhan ekonomi akibat ketergantungan yang terlalu besar pada satu jenis komoditas, misalnya minyak bumi—dan mengimbau pemerintahan Xanana - Alkatiri untuk segera menyusun sebuah blue print ekonomi Lorosae dengan ancang-ancang pascaminyak bumi tahun 2025, terutama dalam pembangunan infrastruktur dan pembangunan pendidikan, maupun mempersiapkan sebuah model ekonomi alternatif sejak awal.
Dengan asumsi bahwa cadangan migas Timor Leste akan habis dalam 20 tahun, maka jika penerimaan royalti migas Timor Leste sekitar 3 milyar dollar AS per tahun mulai tahun 2005 (sekitar Rp 3 trilyun untuk negara dengan penduduk kurang dari 1 juta orang, atau rasio fiskal Rp 3 juta per penduduk per tahun), maka selambat-lambatnya tahun 2025 ekonomi Timor Leste harus sudah mampu melepaskan diri dari ekonomi migas.
Prof Stephanie Fahey dari Institut Riset Asia-Pasifik di Universitas Sydney dalam salah satu kertas kerjanya tentang Timor Leste, meski tidak menolak intensifikasi ekonomi agraris yang disebutnya biasanya penuh dengan subsisdi terselubung, begitu pula ekonomi ekspor semacam industri di Taiwan yang bisa berdampak pada lingkungan, tetap lebih cenderung menawarkan apa yang disebutnya rentier economy atau ekonomi jasa bagi Timor Leste.
Dengan panjang lebar ia menguraikan potensi ekonomi jasa bagi Timor Leste, mulai dari yang konvensional seperti turisme, kasino, pangkalan militer, bendera kapal antarbenua, fasilitas transito, persinggahan yacht, pendidikan tinggi yang berkualitas dan lain-lain, sampai ke yang spesifik seperti fasilitas bebas pajak untuk perbankan dan lembaga keuangan, telekomunikasi berbasis satelit, bunker pergudangan, fasilitas pengolahan dan daur ulang sampah, serta berbagai outsourcing jasa dari Australia, Singapura, dan Eropa.
Model ekonomi seperti ini pun, menurut ekonom lainnya, akan menghindarkan Timor Leste dari penyakit otoriter rezim minyak bumi yang hadir di hampir semua negara yang eknominya didominasi penerimaan migas. Hanya, model ekonomi sebagaimana yang diimpikan Stephanie bagi Timor Leste itu, tentu membutuhkan infrastruktur yang prima, SDM yang unggul, hukum yang disiplin, dan pemerintahan yang sangat stabil. Tetapi jika Pemerintah Timor Leste secara sungguh-sungguh mendengar peringatan East Timor Study Group sejak dini, 20 tahun ekonomi migas adalah waktu yang sangat cukup untuk membangun infrastruktur ekonomi yang benar-benar kuat tersebut, dan mencetak SDM yang diperlukan untuk model rentier economy itu.
Dalam bidang SDM untuk model rentier economy pun, sebetulnya Timor Leste tidak separah yang diperkirakan. Sekarang ini terdapat sekitar 50.000 Timor diaspora yang tersebar di seluruh dunia, di Eropa, Amerika, Australia, dan Indonesia. Di Eropa, Amerika, dan Australia, sebagian besar dari mereka adalah profesional dari tingkat paling bawah sampai manajemen puncak.
Segelintir dari mereka ini sudah kembali ke Timor Leste. Tetapi sebagian besar dari mereka ini masih menunggu bagaimana perkembangan Timor Leste yang merdeka di bawah Presiden Xanana. Jika Timor Leste yang baru ini mampu tumbuh stabil, terutama tidak terseret pada rivalitas terselubung Xanana vs Marie Alkatiri yang seharusnya menjadi Dwitunggal, arus masuk keahlian dan modal dari Timor diaspora ini akan menjadi kekuatan ekonomi yang dahsyat bagi masa depan Timor Leste.
Apalagi jika pemerintahan yang stabil itu dapat memungkinkan penerimaan dari sekuritisasi migas (menerima pembayaran royalti migas lebih dulu dengan penerimaan yang didiskon) sehingga penerimaannya bisa dipercepat menjadi langsung mulai tahun 2002 ini dengan premium risk serendah mungkin, maka potret Timor Leste yang ekonominya ultra-modern ala Stephanie itu tentu kapan-kapan masih akan bisa dilihat oleh Rien Kuntari. (Valens Doy, wartawan)http://www.taurmatanruak.com/categoryblog/98-perkembangan-timor-leste.html

Sabtu, 16 Juni 2012

Jasad-di-Kuburan-Massal

KUPANG--MICOM: Pemerintah Timor Leste akan mengumumkan identitas 13 jasad yang ditemukan dikubur massal dalam satu lubang di taman kantor Perdana Menteri Xanana Gusmao.

Jasad yang ditemukan pada Senin (11/6) itu saat ini sedang diautopsi untuk mengetahui identitas mereka.

Konsul Timor Leste untuk Indonesia di Kupang Felisiano da Costa mengatakan salah satu jasad yang dikabarkan legenda tinju Thomas Americo belum dipastikan kebenarannya. "Kami tunggu outopsi forensik yang akan diumumkan pemerintah," katanya saat dihubungi wartawan, Kamis (14/6).

Sebanyak 13 jasad itu ditemukan para teknisi dari perusahaan konstruksi air Bantuan Tenaga Kerja Group saat menggali tanah untuk mengubur pipa air mancur. Pemerintah negara itu menduga jasad tersebut adalah korban pembantaian saat pengumuman kemerdekaan Timor Leste pada 1999. Pekerja menemukan jasad tersebut pada lubang berukuran 2 x 1,5 meter. (PO/OL-01)

Advertisement
http://www.mediaindonesia.com/read/2012/06/14/326293/39/6/Timor-Leste-segera-Umumkan-Identitas-Jasad-di-Kuburan-Massal

Minggu, 03 Juni 2012

Luar biasa

Operasi Seroja adalah sandi untuk invasi Indonesia ke Timor Timur yang dimulai pada tanggal 7 Desember 1975. Pihak Indonesia menyerbu Timor Timur karena adanya desakan Amerika Serikat dan Australia yang menginginkan agar Fretilin yang berpaham komunisme tidak berkuasa di Timor Timur. Selain itu, serbuan Indonesia ke Timor Timur juga karena adanya kehendak dari sebagian rakyat Timor Timur yang ingin bersatu dengan Indonesia atas alasan etnik dan sejarah.
Angkatan Darat Indonesia mulai menyebrangi perbatasan dekat Atambua tanggal 17 Desember 1975 yang menandai awal Operasi Seroja. Sebelumnya, pesawat-pesawat Angkatan Udara RI sudah kerap menyatroni wilayah Timor Timur dan artileri Indonesia sudah sering menyapu wilayah Timor Timur. Kontak langsung pasukan Infantri dengan Fretilin pertama kali terjadi di Suai, 27 Desember 1975. Pertempuran terdahsyat terjadi di Baucau pada 18-29 September 1976. Walaupun TNI telah berhasil memasuki Dili pada awal Februari 1976, namun banyak pertempuran-pertempuran kecil maupun besar yang terjadi di seluruh pelosok Timor Timur antara Fretilin melawan pasukan TNI. Dalam pertempuran terakhir di Lospalos 1978, Fretilin mengalami kekalahan telak dan 3.000 pasukannya menyerah setelah dikepung oleh TNI berhari-hari. Operasi Seroja berakhir sepenuhnya pada tahun 1978 dengan hasil kekalahan Fretilin dan pengintegrasian Timor Timur ke dalam wilayah NKRI. Selama operasi ini berlangsung, arus pengungsian warga Timor Timur ke wilayah Indonesia mencapai angka 100.000 orang. Korban berjatuhan dari pihak militer dan sipil. Warga sipil banyak digunakan sebagai tameng hidup oleh Fretilin sehingga korban yang berjatuhan dari sipil pun cukup banyak. Pihak Indonesia juga dituding sering melakukan pembantaian pada anggota Fretilin yang tertangkap selama Operasi Seroja berlangsung.
————–
Invasi, bukan Integrasi
Saya menegaskan, bahwa Timor Timur diinvasi oleh Indonesia pada 1975, saya sebagai warga Indonesia mengakui hal itu. Saya tidak menyetujui penggunaan kata integrasi yang tercetak di buku sejarah selama orde baru karena itu benar-benar pembodohan semata. Sudah sepantasnya kita mengakui bahwa Indonesia memang bangsa yang ekspansif.
CATATAN PEMBACA LAIN. ANDA PERLU BACA RESOLUSI PBB 1941 TAHUN 1949 TENTANG MEKANISME KEMERDEKAAN DARI SUATU NEGARA PENJAJAH YAITU PORTUGAL. PORTUGAL MEMBIARKAN TIMOR TIMUR VAKUM PEMERINTAHAN SELAMA 3 BULAN (September, Oktober, Nopember). Selama itu FRETILIN membantai lebih dari 60.000 dari kelompok integrasi yg notabene adalah orang Timor Timur sendiri (ini adalah data resmi dari laporan PBB. Anda tidak bisa membantah itu). Apakah itu bukan dikategorikan genocide atau pembantaian. Dan apakah itu bukan Perang Saudara atau perang antara Saudara?http://timorlestemerdeka.wordpress.com/fretilin-dan-timor-leste/

Senin, 28 Mei 2012

with Anand Krishna

Pertemuan dengan Anand Krishna memang tak disengaja. Berawal dari sebuah  iklan dengan judul "Bedah Buku NeoSpiritual HYPNOTHERAPY" inilah seakan menghipnotis penulis untuk tidak melewatkan acara tersebut, terlebih bertemu dan bertatap muka langsung dengan sang pengarang buku merupakan pengalaman yang patut untuk diceritakan di blog ini. Acara "Bedah buku NeoSpiritual HYPNOTHERAPY" berlangsung di toko buku gramedia, jalan merdeka kota Bandung.  Acara dimulai pada pukul 15.00 sampai dengan pukul 17.00 WIB dan di isi dengan diskusi dan tanya jawab bersama Anand Krishna dan ibu Fanny anggriani. Para peserta yang hadir  dalam acara bedah buku ini terdiri dari berbagai macam latar belakang profesi dan agama. Mereka begitu antusias untuk mendengarkan penjelasan Anand Krishna yang dikemas sedemikian rupa sehingga tetap menarik untuk diikuti.
 Sejujurnya penulis tidak terlalu tertarik dengan hal-hal yang berbau hipnotis, tayangan di tivi dan daftar korban hipnotis yang ku baca di surat kabar atau majalah semakin menambah daftar akan ketidaksukaan  pada hal-hal yang berbau hipnotis atau magis. Tapi kali ini aku seakan telah terhipnotis oleh seorang Anand krishna. Buku "NeoSpiritual HYPNOTHERAPY" Menjadi bacaan pertamaku dalam proses pembelajaran di Tana Sunda. Buku NeoSpiritual HYPNOTHERAPY sebagaimana yang tertulis di halaman awal merupakan rangkuman dari Master-Thesis sang pengarang untuk meraih gelar Master of Metaphysical Science di University of Methaphysics, Sedona-Amerika serikat. Buku NeoSpiritual HYPNOTHERAPY sebenarnya cocok untuk mereka yang telah mempraktekkan hypnotherapy selama beberapa tahun dan "setidaknya" telah menangani puluhan kasus, termasuk untuk mereka yang sudah menjadi pelatih (hal.4). Hipnotis dan hypnotherapy merupakan hal yang baru bagi penulis, jadi bagi para pengunjung blog yang punya keahlian atau pernah terlibat langsung dengan komunitas Anand Krishna, mohon di

Selasa, 31 Januari 2012

Timor Leste Undang Sritex Tanam Modal

Xanana: Investor Indonesia Silahkan Masuk ke Timor Leste

REPUBLIKA.CO.ID, SUKOHARJO - Para pengusaha Indonesia diminta untuk menanamkan invetasi ke Timor Leste. Undangan itu disampaikan Perdana Menteri Timor Leste, Kay Rala Xanana Gusmao, "Masih terbuka lebar peluang pengusaha Indonesia yang akan menanamkan investasi disegala bidang di Negara Timor Leste, kata Xanana di Sukoharjo, Sabtu, saat berkunjung ke pabrik tekstil PT Sritex Sukoharjo, Jawa Tengah.

Perdana Menteri Timor Leste seusai bertemu dengan Presiden Direktur PT Sritex Iwan Setiawan Lukminto dan Presiden Komisaris PT Sritex HM Lukminto, melakukan aksi penanaman pohon jambu Desrsono di kompleks pabrik tersebut, dan terus melanjutkan peninjauan di pabrik tekstil tersebut.

Presiden Direktur PT Sritex Iwan Setiawan Lukminto, mengatakan dalam pertemuan dengan Xanana Gusmao memang telah mengundang PT Sritex untuk menanamkan investasi di negara tersebut. "Kami sangat senang di undang untuk datang ke Timor Leste dan nanti akan dijajaki dulu untuk berinvestasi di negara tersebut," katanya.

"Apa yang disampai oleh Perdana Menteri Timor Leste dalam pertemuan tadi semua itu baru tawaran dan ini masih perlu dilakukan tindak lanjut dulu. Jangkauannya masih panjang, saya harus mengetahui kondisi disana secara pasti dulu baik mengenai pasar maupun lainnya," kata Iwan.http://www.republika.co.id//berita/internasional/global/12/01/28/lyi3lq-xanana-investor-indonesia-silahkan-masuk-ke-timor-leste