Hikayat dari Lospalos
“Nenek tidak mau orang lain mengantarku ke tempat di mana kita harus berpisah untuk selamanya, nenek ingin kamu berjalan di sampingku sampai di pelabuhan kematian. Nenek ingin kamu bukan orang lain, ingat itu. Karena kamu satu-satunya cucuku yang nenek sayangi selama ini, karena kamu bertanya tentang kehidupan dan kematian.”
“Apakah aku harus menangis?” Aku bertanya “karena setiap kali kematian datang semua orang pasti menangis dan bersedih”
“Tidak perlu, nenek tidak ingin air matamu jatuh karena kepergian nenek masuk surga.”
“Kok nenek tahu dari mana bisa masuk surga?” aku tanya dengan sedikit bingung.
“Selama ini nenek merasa berbuat baik di dunia, masa masuk neraka! Nenekmu ini sudah beli tiket untuk masuk surga.”
“Berarti ada kehidupan baru setelah kematian?”
Nenek menjelaskan, “Kematian itu ibarat kamu tidur nyenyak, kamu bekerja di kebun misalnya, melihat jagung bertumbuh dengan subur, kacang tanah tidak dimakan ayam hutan, tidak ada hama tikus, kamu pulang menceritakan kepada tetanggamu, malamnya kamu tidur nyenyak kemudian bermimpi dalam tidurmu. Tetapi, jika jagungmu dimakan sama tikus atau monyet kamu pasti marah, kata-kata kotor mulai keluar satu persatu dari dalam rongga mulutmu. Kamu ingin sekali membunuhnya, namun sayang kamu hanya seorang diri. Hatimu pasti sedih melihat jagung dan tanaman lain, apakah kamu bisa tidur? Arti kematian seperti itu, kamu akan tidur nyenyak selama kamu merasa berbuat baik di dunia. Jika tidak maka arwahmu tidak tenang di alambaka.”