Mereka para pengamat itu lupa bahwa kemerdekaan sebuah negara bukanlah permainan sulap ala Dedi Corbuzier. Kemerdekaan itu sangatlah mahal. Pencapaiannya butuh waktu yang panjang dan butuh pengorbanan dari segenap komponen bangsa. Tak heran Bung Karno menerjemahkannya sebagai Jembatan Emas. Dan untuk Timor-Leste sejarah mencatat betapa besar dan mahal pengorbanan rakyat Timor-Leste dalam mencapai kemerdekaan itu. Dan bersyukurlah Timor-Leste di bawah kepemimpinan Kayrala Xanana Gusmao berhasil melalui semuanya itu dengan gemilang.
Sekarang sudah semakin jelas bahwa kemajuan sebuah negara tidaklah ditentukan oleh seberapa besar wilayah negara yang bersangkutan. Seperti halnya Timor-Leste yang di atas peta bumi hanyalah seluas kuranglebih 14 ribuan Km2. Juga kemajuan sebuah negara itu tidak pula ditentukan seberapa hebat rencana pembangunan nasional dituangkan di atas kertas perencanaan. Kemajuan sebuah negara itu terbukti hanya bisa dicapai apabila Founding Fathers konsisten dengan Moralitas Perjuangan itu sendiri.Rabu, 28 Desember 2011
Timor-Leste Menapak Hari Depan yang Cerah oleh Parlin Pakpahan
Tak terasa perjalanan Timor-Leste sebagai sebuah negara yang merdeka dan berdaulat telah berjalan kurang-lebih 1 dasawarsa. Di awal kemerdekaannya tak lama setelah Referendum Timtim tahun 1999, banyak pengamat yg memprediksi betapa Negara muda ini nanti akan kelabakan *sendiri menghadapi masalah internal yang sungguh tak mudah diatasi oleh para pemimpin Timor-Leste.
Jumat, 23 Desember 2011
Atasi Kemiskinan, Timor Leste Bangun 55 Ribu Rumah
DEPOK - Perdana Menteri Timor Leste Xanana Gusmao menargetkan hingga tahun 2015 pemerintahannya sudah menyelesaikan pembangunan puluhan ribu rumah bagi warga miskin. Hal itu sebagai salah satu langkah negara tersebut untuk mengurangi kemiskinan.
Sedikitnya 55 ribu rumah layak huni tengah dibangun dan ditargetkan selesai pada tahun 2015. Tentunya dengan fasilitas air dan sanitasi yang baik.
"Ini untuk mengurangi kemiskinan, mulai tahun ini kami mulai bangun rumah di tiap kecamatan bagi masyarakat kelas bawah, denan menyediakan akses transportasi, kesehatan, dan pendidikan," katanya saat menyampaikan kuliah umum di Universitas Indonesia (UI), Selasa sore (22/03/11).
Xanana juga berjanji akan terus meningkatkan pelayanan publik. Tak hanya itu, ia mengklaim akan terus menciptakan pemerintahan yang baik dan transparan dengan menyediakan website portal transparan untuk dapat diakses masyarakat.
Sedikitnya 55 ribu rumah layak huni tengah dibangun dan ditargetkan selesai pada tahun 2015. Tentunya dengan fasilitas air dan sanitasi yang baik.
"Ini untuk mengurangi kemiskinan, mulai tahun ini kami mulai bangun rumah di tiap kecamatan bagi masyarakat kelas bawah, denan menyediakan akses transportasi, kesehatan, dan pendidikan," katanya saat menyampaikan kuliah umum di Universitas Indonesia (UI), Selasa sore (22/03/11).
Xanana juga berjanji akan terus meningkatkan pelayanan publik. Tak hanya itu, ia mengklaim akan terus menciptakan pemerintahan yang baik dan transparan dengan menyediakan website portal transparan untuk dapat diakses masyarakat.
RI Siap-Siap Garap Proyek Infrastruktur Timor Leste
JAKARTA - Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melakukan penjajakan kerja sama di bidang pembangunan infrastruktur dengan Timor Leste. Kementerian PU telah melakukan kunjungan langsung ke Dili dan menyepakati penandatangan kerja sama dalam dua bulan ke depan.
”Naskah perjanjian sudah siap dan tinggal ditandatangani. Ada sedikit yang diubah namun tidak akan mengurangi substansinya,” kata Kepala Badan Pembinaan Konstruksi (BPK) Kementerian PU Bambang Goeritno di Jakarta belum lama ini.
Bambang mengatakan, ada 12 butir kesepakatan dalam perjanjian yang akan ditandatangani, di antaranya mencakup bidang jalan dan jembatan, air bersih dan sanitasi,perumahan,serta sumber daya air. Namun, imbuh dia, dari semua kerja sama itu, masalah peningkatan sumber daya manusia untuk dilatih dan didik menjadi pekerja konstruksi menjadi prioritas utama untuk dilaksanakan.
Bambang menambahkan,Timor Leste merupakan negara tetangga yang tengah berbenah diri membangun berbagai infrastruktur yang kondisinya saat ini masih sangan minim.Karena itu,peluang bagi kontraktor nasional untuk berkiprah di negara itu cukup besar.
”Naskah perjanjian sudah siap dan tinggal ditandatangani. Ada sedikit yang diubah namun tidak akan mengurangi substansinya,” kata Kepala Badan Pembinaan Konstruksi (BPK) Kementerian PU Bambang Goeritno di Jakarta belum lama ini.
Bambang mengatakan, ada 12 butir kesepakatan dalam perjanjian yang akan ditandatangani, di antaranya mencakup bidang jalan dan jembatan, air bersih dan sanitasi,perumahan,serta sumber daya air. Namun, imbuh dia, dari semua kerja sama itu, masalah peningkatan sumber daya manusia untuk dilatih dan didik menjadi pekerja konstruksi menjadi prioritas utama untuk dilaksanakan.
Bambang menambahkan,Timor Leste merupakan negara tetangga yang tengah berbenah diri membangun berbagai infrastruktur yang kondisinya saat ini masih sangan minim.Karena itu,peluang bagi kontraktor nasional untuk berkiprah di negara itu cukup besar.
Timor Putra Nasional Masih Punya Utang Rp2,3 T
JAKARTA - Masih ingat dengan perusahaan PT Timor Putra Nasional (PT TPN) milik Hutomo Mandala Putra atau Tommy Soeharto? Walau kini perusahaannya sudah tidak memproduksi mobil merek Timor, tapi ternyata perusahaan tersebut masih membukukan utang kepada negara hingga Rp2,374 triliun. Pemerintah pun kini mendesak untuk yang harus segera diselesaikan.
Demikian disampaikan oleh Kepala Biro Hukum dan Humas Kementerian Keuangan Harry Z Soeratin, dalam siaran persnya di Jakarta, Senin (19/4/2010).
Adapun kronologis asal usul utang tersebut bermula pada PT TPN memperoleh fasilitas kredit dari Bank Bumi Daya (sekarang Bank Mandiri) dengan jaminan kredit antara lain dana rekening giro dan rekening deposito atas nama PT TPN pada Bank Bumi Daya.
Namun karena utang TPN tersebut macet, maka pada 31 Maret 1999 utang PT TPN tersebut telah dialihkan oleh Bank Bumi Daya kepada Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Dan pada 30 April 2003, BPPN menjual dan mengalihkan utang PT TPN kepada PT Vista Bella Pratama (PT VBP).
Demikian disampaikan oleh Kepala Biro Hukum dan Humas Kementerian Keuangan Harry Z Soeratin, dalam siaran persnya di Jakarta, Senin (19/4/2010).
Adapun kronologis asal usul utang tersebut bermula pada PT TPN memperoleh fasilitas kredit dari Bank Bumi Daya (sekarang Bank Mandiri) dengan jaminan kredit antara lain dana rekening giro dan rekening deposito atas nama PT TPN pada Bank Bumi Daya.
Namun karena utang TPN tersebut macet, maka pada 31 Maret 1999 utang PT TPN tersebut telah dialihkan oleh Bank Bumi Daya kepada Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Dan pada 30 April 2003, BPPN menjual dan mengalihkan utang PT TPN kepada PT Vista Bella Pratama (PT VBP).
Menkeu Cairkan Rekening Timor Putra Nasional Rp1,2 T
JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani memerintahkan kepada Bank Mandiri untuk mencairkan rekening jaminan kredit PT Timor Putra Nasional (TPN) senilai Rp1,225 triliun.
Jaminan kredit itu berupa rekening deposito, giro, dan lainnya. Sebagaimana tercantum dalam pembukuan Bank Mandiri, rekening itu merupakan pengalihan dari Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) yang saat ini berada di bawah kendali Menteri Keuangan. Karena BPPN sudah dibubarkan.
"Demi kepentingan mengamankan keuangan negara, pencairan dilakukan pada 27 Agustus 2008," ujar Menkeu Sri Mulyani, di Jakarta, Jumat (29/8/2008).
Pencairan dana tersebut dilakukan karena jaminan kredit tidak termasuk yang dialihkan kepada pembeli piutang. "Jadi waktu itu ketika kredit macet, utang-utangnya kepada bank-bank pemerintah tidak dibayar," ujarnya.
Maka BPPN mengambil seluruh aset dari TPN, dan kemudian dijual pada pihak ketiga, yakni PT Vista Bella Pratama seharga USD445 miliar. "Tidak logis kalau BPPN menjual sebesar USD445 miliar. Dana itu termasuk di dalamnya rekening yang senilai Rp1,225 triliun," ujarnya.
Kemudian, lanjut Sri Mulyani, setelah KPK melakukan penelitian, ternyata di dalam transaksi tersebut ditemukan benturan kepentingan. Adapun pihak Vista Bella Pratama masih memiliki hubungan keterkaitan dengan TPN.
Jaminan kredit itu berupa rekening deposito, giro, dan lainnya. Sebagaimana tercantum dalam pembukuan Bank Mandiri, rekening itu merupakan pengalihan dari Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) yang saat ini berada di bawah kendali Menteri Keuangan. Karena BPPN sudah dibubarkan.
"Demi kepentingan mengamankan keuangan negara, pencairan dilakukan pada 27 Agustus 2008," ujar Menkeu Sri Mulyani, di Jakarta, Jumat (29/8/2008).
Pencairan dana tersebut dilakukan karena jaminan kredit tidak termasuk yang dialihkan kepada pembeli piutang. "Jadi waktu itu ketika kredit macet, utang-utangnya kepada bank-bank pemerintah tidak dibayar," ujarnya.
Maka BPPN mengambil seluruh aset dari TPN, dan kemudian dijual pada pihak ketiga, yakni PT Vista Bella Pratama seharga USD445 miliar. "Tidak logis kalau BPPN menjual sebesar USD445 miliar. Dana itu termasuk di dalamnya rekening yang senilai Rp1,225 triliun," ujarnya.
Kemudian, lanjut Sri Mulyani, setelah KPK melakukan penelitian, ternyata di dalam transaksi tersebut ditemukan benturan kepentingan. Adapun pihak Vista Bella Pratama masih memiliki hubungan keterkaitan dengan TPN.
Depkeu Akan Lawan Putusan Pengembalian Aset Timor
JAKARTA - Departemen Keuangan melakukan perlawanan (verzet) atas peringatan pengadilan untuk mengembalikan uang negara sebesar Rp1,2 triliun kepada Timor Putra Nasional (TPN).
Ini merespons surat peringatan (aamaning) yang diterbitkan PN Jakarta Selatan, Rabu pekan ini, agar uang itu dikembalikan, maksimal pada 27 November 2008 mendatang.
"Kita lakukan perlawanan atau verzet," kata Direktur Jenderal Kekayaan Negara Depkeu Hadiyanto, di Gedung E, Kantor Depkeu Jakarta, Jumat (21/11/2008) sore.
Uang sengketa itu awalnya tersimpan di Bank Mandiri terdiri dari USD3.974,94 dan Rp1,027 triliun, dan telah diambil alih ke kas Bendaharan Umum Negara, pada Agustus 2008. Penarikan itu dilakukan Depkeu meski saat itu belum ada keputusan MA mengenai kasasi TPN yang mengklaim dana itu miliknya.
"Aset negara sudah ada di Menkeu, jadi tidak ada keraguan pemerintah untuk mengamankan itu," kata Hadiyanto.
Ini merespons surat peringatan (aamaning) yang diterbitkan PN Jakarta Selatan, Rabu pekan ini, agar uang itu dikembalikan, maksimal pada 27 November 2008 mendatang.
"Kita lakukan perlawanan atau verzet," kata Direktur Jenderal Kekayaan Negara Depkeu Hadiyanto, di Gedung E, Kantor Depkeu Jakarta, Jumat (21/11/2008) sore.
Uang sengketa itu awalnya tersimpan di Bank Mandiri terdiri dari USD3.974,94 dan Rp1,027 triliun, dan telah diambil alih ke kas Bendaharan Umum Negara, pada Agustus 2008. Penarikan itu dilakukan Depkeu meski saat itu belum ada keputusan MA mengenai kasasi TPN yang mengklaim dana itu miliknya.
"Aset negara sudah ada di Menkeu, jadi tidak ada keraguan pemerintah untuk mengamankan itu," kata Hadiyanto.
2011, Timor Leste Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 13%
DEPOK - Pemerintah negara Timor Leste optimistis akan kembali meraih pertumbuhan ekonomi yang siginifikan di 2011 dengan meningkatkan sumber daya alam dan manusia negara tersebut.
Pemerintah Timor Leste mengklaim periode 2009-2010 pertumbuhan ekonomi negara tersebut berhasil menduduki peringkat sepuluh besar dunia dengan hampir mencapai 13 persen.
Menteri Ekonomi Pembangunan Timor Leste Joao Mendes Goncalvez mengatakan tahun ini pertumbuhan ekonomi masih terus berjalan, namun pihaknya tetap yakin akan meraih pertumbuhan ekonomi yang sama di 2009-2010. Hal itu, kata dia, dengan terus mengembangkan sektor swasta, agrebisnis, serta campur tangan investor negara lain.
"Timor Leste negara yang kaya, kami terus meningkatkan kerja sama kakak dan adik dengan Indonesia. Kita yakin secara bersama dapat menciptakan strategi pembangunan ekonomi yang saling menguntungkan, dengan sumber daya alam industri kami butuh beberapa perusahaan bagi kami untuk mendukung perekonomian, tahun ini pertumbuhan ekonomi masih berjalan tapi kami yakin bisa jadi yang terbesar lagi,” katanya kepada wartawan di Balai Kota Depok, dikutip dalam naskah pidato, Rabu (23/3/2011).
Pemerintah Timor Leste mengklaim periode 2009-2010 pertumbuhan ekonomi negara tersebut berhasil menduduki peringkat sepuluh besar dunia dengan hampir mencapai 13 persen.
Menteri Ekonomi Pembangunan Timor Leste Joao Mendes Goncalvez mengatakan tahun ini pertumbuhan ekonomi masih terus berjalan, namun pihaknya tetap yakin akan meraih pertumbuhan ekonomi yang sama di 2009-2010. Hal itu, kata dia, dengan terus mengembangkan sektor swasta, agrebisnis, serta campur tangan investor negara lain.
"Timor Leste negara yang kaya, kami terus meningkatkan kerja sama kakak dan adik dengan Indonesia. Kita yakin secara bersama dapat menciptakan strategi pembangunan ekonomi yang saling menguntungkan, dengan sumber daya alam industri kami butuh beberapa perusahaan bagi kami untuk mendukung perekonomian, tahun ini pertumbuhan ekonomi masih berjalan tapi kami yakin bisa jadi yang terbesar lagi,” katanya kepada wartawan di Balai Kota Depok, dikutip dalam naskah pidato, Rabu (23/3/2011).
Langganan:
Postingan (Atom)